Read more: http://matsspensix.blogspot.com/2012/03/cara-membuat-judul-pada-blog-bergerak.html#ixzz274NKvLCo

Minggu, 06 Maret 2016

Melesat dengan Menulis

Sejarah perjalanan umat manusia dimulai dari menulis dan titik akhir tertinggi peradaban tertinggi manusia adalah tulisan. Dalam perkembangannya Cetak Biru peradaban manusia merupakan pergeseran dari  opus manuale (kerja kasar) ke opus spirtuale (kerja halus). Sementara itu Transformasi Oral Culture atau budaya lisan menjadi Creat Culture menjadikan tatanan masyarakat statis menjadi lebih dinamis.

Tulisan bisa menjadi sebuah realitas karena ia dapat berisi fakta, melalui tulisan keberlangsungan generasi tetap terjaga. Tradisi tulis-menulislah yang menjadi penyempurna tumbuh-kembangnya peradaban. Tak heran jika tulis-menulis menjadi nilai ukur dan ciri khas negara maju.

Sayangnya Indonesia belum masuk sebagai negara society writing atau masyarakat yang gemar menulis. Boleh jadi karena sejak dulu bangsa ini lebih lekat dengan tradisi bercerita daripada tulis-menulis. Kita ingat banyak kisah atau cerita diturunkan antar generasi lewat lisan.

Data Scientific American Survey tahun 1994 menunjukkan kontribusi Indonesia pada pengetahuan, sains dan teknologi hanya 0,012 persen. Fakta itu seolah membenarkan bahwa karya ilmiah mahasiswa Indonesia yang diterima di ranah Internasional sangat sedikit.

Dalam sebuah workshop di UGM, Prof. Dr. Mudasir, M.Eng mengatakan rendahnya minat menulis disebabkan beberapa hal. Selain  karena tidak mengetahui bagaimana cara menulis ilmiah dengan baik, faktor lain salah satunya rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.

Kegiatan membaca dan menulis saling terkait dan mempengaruhi. Membaca merupakan referensi untuk menulis. Seseorang tidak bisa menulis bila tak suka membaca, karena kedua kegiatan itu sejatinya saling beriringan
Bangsa Indonesia bisa dibilang sangat malas membaca buku atau media cetak.  Hanya 1 dari 1.000 orang yang punya minat baca serius. Setidaknya itulah hasil penelitian UNESCO. 

Berdasarkan riset APJII (Asosiasi Penyelanggara Jasa Internet Indonesia) dan PUSKAKOM UI busana mencatatkan angka 71,6% dari seluruh produk yang dibeli secara online, kemudian disusul oleh kosmetik dengan angka 20%. Sementara jasa travel dan buku, memiliki persentase sebesar 9,7%.
Dengan kata lain, masyarakat Indonesia lebih suka belanja konsumtif ketimbang membeli buku.

Sebagai pembanding, sebutlah Jepang. Orang-orang Jepang selalu memanfaatkan waktu untuk membaca. Mereka membaca dimanapun: di halte, di bis, di kereta dan tempat lainnya. Tak mengherankan bila kini mereka melesat meski pernah porak poranda pasca tragedi Nagasaki-Hiroshima. Bandingkan dengan masyarakat Indonesia, kita lebih suka ngobrol atau nggosip, bermain gadget dan bahkan tidur. Sungguh ironis, bukan? []

Menulis Punya Banyak Keuntungan?

Profesor James W. Pennebaker, Ph.D., dalam bukunya The Healing Power of Expressing Emotions, mengatakan seseorang yang terbiasa menulis lebih bisa mengontrol, mengekspresikan emosi dan pikirannya. Alhasil seorang penulis akan jauh lebih tenang dalam menghadapi masalah.

Seorang penulis terbiasa menggali ide-ide kreatif dan karenanya banyak menggunakan otak kanan. Pada titik lain, penulis menggunakan otak kirinya saat: menyajikan data, menanalisa, dan membangun argumentasi. Sinergi otak kanan dan kiri akan berkembang secara seimbang dan meningkatkan kecerdasan emosional.

Saat menulis, seseorang meluapkan keresahannya dalam bentuk tulisan yang menginspirasi. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa menulis memiliki banyak manfaat positif. Menulis akan meningkatkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, meningkatkan kepercayaan diri, dan kemampuan membaca.


Jika menulis menjadikan seseorang mencapai sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan, tertarik untuk memulai menulis? []

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCpenney Printable Coupons